Pertemuan (Visual Novel Short Game)

“I’m sorry, am I allowed to sit here?”
I immediately turned towards the source of the sound. A woman.

“Please.” I said simply. I force my smile at her. She smiled with an expression that looks cheerful. I was just about to take a book from my bag, when she returned to speak.

“I’m sorry, I want to ask some questions. Do you wanna answer? ”

Continue reading

Advertisements

Crappy Adventure Game (Point & Click Game)

Wuah.

What time is it now? The sun is so bright.

1 PM??? I think I’m late if I go to work right now.

Oops. I forget. I am jobless since last month.

Right now I just want to focus on my game.

Yes, game and game and game again.

I don’t wanna go out of my room. Continue reading

Siapa yang Mau Kupanggil dengan Sebutan Manusia?

Manusia tidak rela kalau dirinya dipanggil dengan sebutan nama binatang, padahal belum tentu itu artinya tidak baik. Tergantung dari persepsi mana dinilainya. Aku? Tidak apa-apa mereka memanggilku begitu, selagi aku masih bisa mengambil kesan positif dari para binatang itu, binatang yang sebenarnya memiliki kelebihan daripada manusia itu sendiri. Bahkan terkadang akupun memanggil mereka dengan sebutan binatang, bukan untuk mencerca, tapi untuk diambil maknanya. Continue reading

Teruntuk Kamu

Teruntuk Kamu

 

Bicaralah padaku, wahai gadis manis berambut sebahu.
Siapa pria yang bersamamu waktu itu?
Yang bisa membuatmu tersipu malu.
Bahkan tertawa lepas hingga matamu menyipit lucu

Katakanlah padaku, wanita yang selalu mengisi mimpi-mimpiku
Apakah kau tak bosan-bosannya menipu
Beribu pria yang berharap banyak padamu
Dengan tingkah polahmu yang terkesan lugu

Tuturkanlah, duhai dara yang cantik jelita
Bagaimana kau dapat melewati cobaan dunia
Yang selalu dipenuhi godaan yang menyilaukan mata
Hinga tanpa sadar kita terperosok di dalamnya

Kau yang dengan sadar telah masuk ke dalam hatiku
Suarakanlah apa yang ada di alam pikirmu
Akankah mimpi kita pantas untuk menjadi masa depan
Atau hanyalah aku yang memupuk harapan

 

Jakarta, 19 Desember 2015
Saya Grad

Pria yang Terpekur di antara Kerumunan Massa

Pria itu, yang berbaju hitam itu
Bersandar di depan toilet pria
Lima, sepuluh, lima belas menit sudah disana
Tak jelas apa yang ditunggunya, yang dilakukannya

Matanya nanar menatap jauh ke arah keramaian di hadapannya
Pikirannya melayang tak jelas arahnya
Perasaannya bercampur aduk, terkocok-kocok, hingga buyar, menyebar, berserakan

Pilu, duka, lara, ataukah bahagia
Ia sendiri bingung apalagi yang harus Ia percaya
Antara perasaan atau penglihatannya yang sempurna

Wanita itu, yang selama ini Ia cintai sampai habis
Berjalan mesra bersama seorang pria, bukan dia
Wanita itu, yang tiap hari dikiriminya sejuta kata-kata mesra dan kado yang dibungkus dengan hiasan yang menyolok mata
Hanya melihatnya dan melengos seakan tak mengenalnya

Pria itu, yang berbaju hitam itu
Sempat berpikir untuk menghabisi nyawa wanita itu, yang dicintanya secara mutlak, telak
Tapi apa daya, Ia tak tega dan tak akan pernah tega

Pria itu, yang bersandar di depan toilet pria
Menghambur dan kembali berbaur ke dalam hiruk pikuk di hadapannya
Dia tahu, dia tak boleh berlarut-larut dalam alam pikirannya
Dia tahu, berpikir tak akan mengubah apapun yang telah terjadi di hadapannya
Dihampirinya wanita itu, disapalah wanita yang dicintanya
Selamat ya
Wanita itu kaget dan terhenyak, tak mengerti maksud perkataan si pria
Meski bisa segera mengendalikan dirinya dan membalas ucapannya
Terimakasih
Mereka pun berpisah, kembali ke dalam lautan massa

Pria itu, yang berbaju hitam itu
Kini telah larut di kerumunan massa
Mengubur lara dalam hatinya
Dan berterimakasih atas keberanian yang baru dilakukannya
Dalam pikirannya hanya ada barisan kalimat yang baru saja diimaminya

Wanita itu, yang dicintainya, harus bahagia
Meski bukanlah dia sosok pria yang diidamkannya

Saya Grad,
Untuk sesosok wanita berpakaian kemeja putih kotak-kotak di kerumunan massa
ALF, 21 Maret 2015