Tulisan ini mengandung unsur SARA, ditujukan untuk umat Islam, menyinggung politik, dan penuh dengan pendapat personal dari penulis, sehingga tak bisa dibuktikan dengan ilmiah, juga karena tak ada sumber pasti dari berita yang disampaikan, hanya berdasarkan ingatan penulis. Lagipula kebenaran hanya ada di dalam hati masing-masing individu.

Dalam Islam, berprasangka baik sangatlah dianjurkan bagi setiap pemeluknya, dalam kondisi apapun. Namun akhir-akhir ini banyak orang yang mudah menaruh prasangka buruk terhadap orang lain, hanya karena orang itu berbeda pandangan dengan dirinya.

Sebagai contoh, bagi warga Jakarta khususnya, dan warga Indonesia pada umumnya, selama beberapa bulan terakhir ini dihebohkan dengan pilkada DKI yang digelayuti isu SARA. Tak lain karena ucapan sang gubernur aktif, Bapak Ahok (singkatnya), yang dianggap menghina Al-Quran.

Pertanyaan pertama: Bagaimana jika itu salah satu taktik dari Ahok supaya beliau tidak terpilih lagi?

Seperti yang pernah dikemukakan beliau beberapa waktu silam, sekitar setahun setelah beliau menjabat sebagai gubernur, tak ada masalah bagi beliau apabila tak terpilih kembali menjadi gubernur pada periode berikutnya.

Bagi yang menjawab pertanyaan pertama dengan “itu hanya pemanis bibir ataupun taktik kampanye,” berarti anda sudah mulai berprasangka buruk. Walaupun Ahok pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya, jika kita berpikir positif dengan bilang, “Ahok nggak mendalami agama Islam, wajar
kalau dia salah tafsir,” itu sudah menjadi nilai tambah karena kita mampu memaklumi tindakan orang lain meski, bagi sebagian orang, kita dianggap membiarkan orang melecehkan kitab kita.

Pertanyaan kedua: Bagaimana bisa Ahok mengkhianati kepercayaan relawan yang mengumpulkan sejuta KTP untuk mendukungnya sebagai calon gubernur independen?

Jawabannya ada di dalam pertanyaan berikutnya: Bagaimana kalau itu juga taktik darinya supaya beliau tidak menang pilgub?

Dengan memilih jalur partai, barisan sakit hati akan muncul bagi yang mendukungnya lewat jalur independen, hal ini tentu akan mengurangi jumlah pemilih dirinya.

Pertanyaan selanjutnya: Bagaimana kalau ternyata Ahok benar-benar berniat menghina salah satu ayat Al-Quran?

Jawabannya: Apakah anda sebelumnya hafal, atau setidaknya, sadar kalau ada tulisan seperti itu di Al-Quran?

Perkataan Ahok memang menyakitkan, tapi jika diambil segi positifnya, banyak umat Islam yang  akhirnya membuka kembali Al-Quran di rumahnya yang sudah berdebu dan membacanya ayat demi ayat, setidaknya untuk mencari apakah ada ayat yang mendukung dari ayat yang disebutkan oleh Ahok, dan ternyata banyak.

Pertanyaan berikutnya: Bagaimana bisa seribu karangan bunga ada di balaikota untuk Ahok?

Ada beberapa versi jawaban, tapi saya hanya tulis 3:
1. Itu hanya taktik dari Ahok untuk membuktikan kalau dia banyak yang menyukai.
Marilah kita berhitung. Setidaknya untuk 1 karangan bunga membutuhkan modal 500 ribu. Apabila ada 1000 karangan bunga, membutuhkan setidaknya 500 juta untuk itu. Anggaplah hanya sepersepuluh dari karangan bunga itu yang benar-benar kiriman orang lain. Berarti jika dikurang, setidaknya membutuhkan modal 450 juta untuk membuat karangan bunga.

2. Jika pengirimnya benar-benar dari personal, bukan settingan, daripada buang-buang uang untuk membeli karangan bunga, lebih baik uangnya digunakan untuk hal yang lebih berguna.
Saya pakai kalimat dari dalam pikiran saya sendiri, “Eh, duit juga duit gue. Mau gue apain ya terserah.”
Kalau digituin sama orang, apa jawabannya?

3. Ahok banyak yang menyukai, makanya karangan bunga itu sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.
Jawaban seperti ini bukan hanya berpikir positif terhadap Ahok, tapi juga kepada pendukungnya. Bahkan tanggapan psitif pun terlontar dari Sandiaga Uno terhadap karangan bunga di balaikota (Lengkapnya ada di artikel di sini )

Pertanyaan terakhir: Bagaimana jika Ahok berusaha memberikan citra negatif bagi dirinya sendiri demi
mempersatukan umat Islam untuk menentangnya?

Pertanyaan seperti itu akan timbul apabila anda berprasangka baik. Apakah pertanyaan itu sudah timbul?

Teruslah berprasangka baik. Bagi anda umat Islam, dengan anda sholat 5 waktu, berarti anda berprasangka baik terhadap Tuhan, menganggap kalau Tuhan akan mengabulkan permohonan anda apabila anda terus meminta. Makanya, jangan kotori anda dengan prasangka buruk. Lagipula meski orang lain berniat buruk, setidaknya kita tidak berpikiran buruk terhadap orang lain karena selalu berprasangka baik.

*Penulis seorang muslim dan bukan pendukung partai politik tertentu, tidak mendukung siapapun dalam pilgub DKI 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s