Assalamu’alaikum. Apa kabar semuanya? Mana senyummu? Hehe. Mumpung lagi iseng, posting tulisan lama aja deh, ini belum diedit sama sekali, jadi harap maklum ya. Selamat menikmati (Emangnya Makanan).

“Senja di Utara Jawa”

 November 2013

“Kita nyeberang yuk,” celetuk Fandi, temanku, saat kami sedang rapat KKN. Sontak teman-teman yang lain langsung menoleh ke arahnya, termasuk aku yang dari tadi menahan kantuk.

“Wah, ide bagus tuh, lumayan buat refreshing.” Lia, sekretaris KKN kami langsung mengiyakan. “Tapi kapan ya, jadwal kita kan lumayan padat disini.”

Anwar, seksi acara yang biasanya lebih banyak diam, langsung mengecek jadwal, “Besok kan minggu, nggak ada jadwal nih, bagaimana kalau minggu pagi kita nyeberang, sore balik lagi kesini?”

“Setuju!” sahut yang lainnya, aku hanya manggut-manggut sambil menguap.

“Oke, deal. Kalau begitu besok pagi kita kumpul setelah sarapan, kita siap-siap nyebrang.” Arif, ketua KKN yang gayanya agak nyentrik, mengambil keputusan.

“Sip, rapat hari ini ditutup. Sekian, wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh”,aku langsung beranjak pergi sambil diiringi sorakan dari yang lain, “Huuuuu! Jam segini udah mau molor aja, Kebo lu!”. Memang saat itu baru pukul 10 malam, tapi aku memang biasa tidur cepat, supaya bisa bangun pagi.

“Ya sudah, karena besok kita semua harus bangun lebih pagi dari biasanya, rapat cukup sampai disini dulu. Terimakasih, wassalam.”, Arif langsung membubarkan rapat.

***

“Oke, semuanya siap?”, Arif bertanya kepada anggotanya saat semuanya sudah berkumpul di halaman pesantren.

“Siaaap!”

“Sebelum perjalanan, marilah kita berdoa semoga diberi keselamatan dalam perjalanan dan kembali dengan selamat.”, Arif memimpin doa, kamipun tertunduk, berdoa dalam hati. Memang kebiasaan kami, setiap akan memulai suatu kegiatan, selalu berdoa bersama terlebih dahulu.

“Berdoa selesai. BERANGKAT!!!”, teriak Arif.

“Hus, jangan begitu, nggak sopan”, Aisyah, ketua seksi konsumsi kami, mengingatkan.

“Tahu nih Arif. Kita pamitan dulu”, teman-teman lainnya juga mengingatkan, Arif hanya bisa cengengesan.

Aku langsung menghampiri Bang Mastur, penjaga pesantren tempat kami menginap, yang saat itu baru kembali dari berkebun. “Bang, kami pamit dulu, mau nyeberang, refreshing, hehe.”

“Wah, akhirnya jadi juga nyeberang. Kirain nggak jadi.”, sahut Bang Mastur.

“Iya Bang, nitip pesantrennya ya, jangan sampai kabur, hehehe.”, Sulis, anggota seksi konsumsi, tiba-tiba ada di sampingku.

“Astaghfirullah. Kamu ini bikin kaget aja.”, aku langsung mengelus dada. Sulis tersenyum sambil menutup mulutnya, “Kamu ini, begitu aja kaget.”, jawabnya sambil tertawa tertahan.

“Iyalah kaget, kamunya tiba-tiba nongol.”, jawabku. Bang Mastur hanya tersenyum melihat tingkah kami berdua, “Ya sudah, saya masuk dulu ya, mau sarapan dulu. Kalian hati-hati disana.”, akupun bersalaman dengan Bang Mastur. Ia juga melambaikan tangan kepada teman-temanku yang lain. Mereka pun membalas dengan melambaikan tangannya.

Aku dan Sulis pun kembali ke tengah-tengah kerumunan teman-teman, mereka tampaknya sedang mendiskusikan sesuatu.

“Oke, fix ya. Karena ceweknya lebih sedikit, jadi yang cewek naik mobilnya Ojan, yang cowok boncengan naik motor.”, Husnul, anggota seksi humas kami, memutuskan.

“Eh, kalo ceweknya di mobil Ojan semua, nggak muat dong.”, Lia membantah.

“Ya sudah, saya bareng Ito kalo gitu, gimana?”, Sulis yang baru dating bersamaku tadi, langsung memutuskan seenaknya. Hah, aku?

“Ciyee, tau deh yang soulmate.”, Icha, yang memang suka meledek orang-orang, kembali meledek kami berdua. Sulis dan aku hanya diam, sementara teman-teman yang lain berdehem dan batuk-batuk, meledek kami berdua.

“Oke, cukup bercandanya. Sudah diputuskan ya, Sulis dibonceng Ito naik motor, cewek yang lain naik mobil Ojan, yang cowok naik motor.”, Arif menengahi.

“Siap Pak Guru.”, sahut yang lainnya sambil meledek Arif. Memang Arif, ketua kami, suka berpenampilan formal. Jika ia bepergian, pasti selalu pakai kemeja dan celana bahan. Kemejanya pun dimasukkan, sehingga terlihat lebih rapi dibandingkan dengan mahasiswa kebanyakan. Cara bicaranya pun kaku dan bahasanya formal, sehingga tidak sedikit yang menyangka ia adalah dosen jika baru mengenalnya.

Kami semua pun bergegas menaiki kendaraan. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang. Kami harus berangkat sebelum tengah hari, supaya tidak terlalu panas di jalan.

Perjalanan dari pesantren kami ke pantai memakan waktu sekitar setengah jam. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, tapi jalan yang dilalui tidak terlalu lebar, sehingga kecepatan maksimal kendaraan kami hanya 40km/jam. Itupun kami tetap harus berhati-hati, karena di sepanjang kiri dan kanan jalan menuju ke pantai hanya ada sawah dan beberapa rumah penduduk, tidak ada pembatas jalan. Maklum, jalur desa.

Sesampainya di pantai, Ojan dan Fandi langsung mencari orang yang biasa menawarkan jasa perahu penyeberangan, sementara aku dan yang lainnya menunggu di warung bilik di pesisir pantai. Saat itu cuaca sudah mulai panas.

“Kapalnya baru berangkat jam sebelas, tunggu disini aja ya.”, saran Fandi begitu ia dan Ojan kembali. “Yaaah.”, sahut beberapa orang dari kami.

Aku melirik jam tangan, masih setengah sebelas kurang. Di antara kami ada yang memesan makanan, ada juga yang kembali mengobrol. Aku memesan kopi hitam, lalu tiduran diatas balai-balai yang memang disediakan untuk pembeli. Sambil menikmati angin yang semilir menghembus, aku mulai merenung.

Tidak terasa, sudah hampir 2 minggu aku dan teman-temanku mengadakan Kuliah Kerja Nyata disini. Tim KKN-ku memilih tempat di Teluk Naga, lokasinya didekat bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kami memilih tempat ini karena melihat situasi penduduk disekitar sini yang cara hidupnya masih seperti masyarakat desa, meskipun letaknya tidak jauh dari perkotaan. Rumahnya pun masih dari bilik. Mereka masih menghidupi diri dengan bersawah, berkebun, bahkan ada juga yang menjadi nelayan bagi yang tinggal di tepi pantai, meskipun sebagian sudah ada yang memodifikasi kapalnya menjadi perahu penyeberangan. Mereka beralih profesi karena letak pantainya yang tidak jauh dari pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, dan banyak permintaan akan perahu penyeberangan kesana.

Tidak mau terlalu lama menunggu, kami pun menaiki kapal. Perjalanan ke pulau Untung Jawa membutuhkan waktu sekitar 1 jam, kecuali saat air sedang pasang, beberapa perahu tidak beroperasi. Biasanya penumpang memang lebih sedikit yang menyeberang jika air pasang, karena ombaknya lebih tinggi sehingga banyak yang mabuk laut. Dulu aku dan teman SMA-ku pernah menyeberang kesana dan pulang saat air sedang pasang, sehingga kami semua mabuk laut. Bahkan Ahmad, temanku yang sudah sering menyeberang kesana, mabuk laut lalu demam hingga 3 hari.

Di perjalanan, Rohman, seksi dokumentasi kami, sibuk mendokumentasikan keadaan di sekitar. Beberapa teman cewek yang lain masih asyik mengobrol, ada juga yang foto-foto narsis. Dasar wanita.

Begitu aku lihat ke teman cowok yang lain, ternyata nggak kalah narsis. Arif, Ojan, Fandi dan Husnul sibuk foto-foto di pinggir perahu dengan berbagai pose. Anwar mulai bergabung dengan cewek-cewek, ikutan ngobrol dan foto-foto. Sementara Oji dan Rama, dua orang temanku yang agak introvert, mengobrol tentang anime dan manga.

Aku memperhatikan Sulis. Sejak tadi ia hanya mengobrol sekenanya, bahkan ia tidak ikut foto-foto dengan yang lain. Kebanyakan waktunya di perahu ini hanya dihabiskan untuk melamun.

Sesampainya kami di pulau Untung Jawa, Rohman langsung mengambil foto kami semua, sebagai bukti kalau kami pernah kesini. Tentunya ini tidak masuk dalam buku laporan KKN, nanti malah kami semua dapat nilai jelek lagi, hehe.

Karena saat itu sudah masuk waktu Dzuhur, kami semua menuju masjid. Setelah sholat, kami mencari tempat makan siang yang berada di pantai. Tapi sayangnya, yang ada di situ cuma makanan instan dan es kelapa, sama seperti yang ada di pantai Tanjung Pasir. Sebenarnya dalam perjalanan menuju masjid tadi, ada beberapa kafe, tapi harganya agak mahal. Lagipula menurut Ojan, rasanya juga biasa saja. Daripada kami tidak makan, lebih baik makan seadanya, lagipula kalau ditemani pemandangan di pantai, apapun akan terasa lebih enak.

Aku menikmati mi instan cup rasa kari sambil memandang ke dermaga. Agak jauh memang, tapi masih terlihat olehku kesibukan yang nampak disana. Naik turunnya penumpang, banyaknya pedagang asongan yang berjualan, bahkan para pengunjung yang asyik foto bersama, seperti kami tadi.

Di pantai, masih banyak anak-anak yang berlarian ataupun bermain pasir dan lempar bola. Padahal waktu itu cuaca cukup terik. Kulihat orangtua mereka hanya memperhatikan dari jauh.

“To, jalan-jalan yuk.”, Lia dan beberapa temanku yang lain mengajakku. Aku melihat cup mi instan yang sedang kupegang. Tinggal sedikit lagi.

“Saya nyusul deh, masih mau habisin ini dulu.”, sahutku. Padahal sih aku memang malas jalan-jalan.

“Ya sudah, kami duluan ya. Tolong jaga Sulis baik-baik, biar nggak diculik, hehe.”, Arif meledekku, dan yang lainnya pun berdehem, bersiul, bahkan Fandi bersiul sampai batuk-batuk. Kulihat Sulis hanya diam saja sambil memandang jauh ke lautan. Aku hanya mengangguk, dan mereka pun pergi.

Setelah aku menghabiskan makananku, kuajak Sulis, “Nyusul yang lainnya yuk.”

Ia menoleh ke arahku lalu menggeleng, “Nggak ah, masih mau disini. Kamu kalau mau nyusul, duluan aja. Aku jaga sini deh.”

“Enak aja, aku kan diamanatkan untuk jaga kamu. Nanti kalau ada apa-apa sama kamu, aku yang disalahin. Lagian mana bisa sih aku tinggalin cewek secantik kamu.”, ujarku gombal.

Sulis tersenyum tipis, “Udah lah, jangan nggombal kamu. Aku tuh kebal sama yang begituan, percuma.”, Aku hanya bisa tertawa.

Kami pun kembali terdiam, menikmati suasana di sekitar. Aku memesan es kelapa muda yang dari kelapa utuh, lalu rebahan di balai-balai. Kupejamkan mataku sambil menghirup udara. Ah, beginilah rasanya santai. Pantas orang sering bilang, santai kayak di pantai.

***

Ba’da Ashar, Arif membuat pengumuman.

“Kita nanti dijemput oleh kapal jam 5 sore, jadi jam 5 kurang seperempat, kita kumpul lagi disini ya.”, Katanya sambil menunjuk kearah ibu yang menjaga warung makan. Ibu yang ditunjuk malah senyum-senyum, hihi.

“Siap Pak Guru.”, kami semua serempak menjawab.

“Bubar, jalan.”

Kami semua langsung berpencar, sendiri-sendiri maupun berkelompok. Entah itu foto-foto, main pasir, ataupun hanya memperhatikan yang lain. Bahkan Fandi dan Ojan menceburkan diri ke laut. Karena aku tidak bawa baju ganti, aku tidak ikut.

Aku lalu mencari Sulis, untungnya dia tidak kemana-mana, kembali duduk disitu sambil memperhatikan yang lain. Atau lebih tepatnya, melamun dengan mata menerawang kemana-mana. Aku lalu mengambil tempat di sampingnya.

“Jalan-jalan yuk, kamu jangan disini aja, nanti malah rugi. Udah jauh-jauh kesini tapi nggak menikmati sekitar sini.”, saranku. Keningnya berkerut.

“Ayo deh.”, jawabnya setelah beberapa saat.

Kami berjalan di tepian pantai tanpa alas kaki, sesekali merasakan air menerpa kaki, merasakan pasir putih yang menempel. Sesekali kami berhenti untuk memperhatikan sekeliling. Ada yang sedang berenang, mulai dari anak-anak hingga dewasa, mulai dari yang datang bersama keluarganya hingga ada juga yang pacaran disana. Akupun langsung memalingkan muka dan menunduk melihat itu. Muka Sulis terlihat agak memerah, mungkin ia juga melihatnya.

Kami pun berjalan agak menjauhi pantai. Dari kejauhan, aku melihat ada menara. Sepertinya untuk penjaga pantai.

“Kita kesitu aja yuk.”, Sulis menunjuk kearah menara itu, rupanya ia juga berpikiran sama denganku. Lalu kami menuju kesana dan naik hingga ke atas. Tidak ada siapa-siapa disini, hanya kami berdua.

“Nah, kan enak disini, pemandangannya lebih luas.”, kataku. Sulis mengangguk setuju.

Dari sini kami bisa melihat keseluruhan pantai. Bahkan teman-teman kami terlihat kecil disana. Entah mereka menyadari kami ada disini atau tidak.

Matahari pun mulai bersinar kemerahan, sepertinya Ia lelah, hehe.

Aku kembali memperhatikan Sulis, sikapnya masih sama. Matanya menerawang jauh. Aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kamu mikirin apa sih? Dari tadi kok diam aja.”

Sulis menghembuskan nafas panjangnya, “Aku ingat tunanganku, dulu kami suka jalan-jalan ke pantai.”, tunangan?

“Atau lebih tepatnya, mantan tunanganku. Kami putus 2 bulan yang lalu, Ia harus menjalani ikatan dinas di luar Jawa.”, ralatnya. Syukurlah, ternyata sudah putus.

“Oh, kirain kamu sekarang udah bertunangan.”, jawabku lega.

“Apa sih kamu, kok kayaknya senang gitu?”, Sulis menatapku heran.

“Gimana kalau aku gantikan posisi tunangan kamu?”

“Maksud kamu?”, Sulis bingung.

“Begini aja deh. Kamu kan baru putus dari tunangan kamu, dan aku juga sebenarnya suka sama kamu, tapi nggak mau pacaran.”, jawabku.

“Oh, jadi maksud kamu, kita HTS-an atau TTM-an nih?”, pancing Sulis sambil tersenyum.

“Nggak dua-duanya. Aku pengen menjaga hati aku cuma untuk kamu. Gimana?”, akupun ikut tersenyum.

“Ya udah kalau itu mau kamu. Kalau gitu aku juga harus jaga hati aku dong.”

“Hah?”, gantian aku yang bingung.

“Soalnya aku juga suka sama kamu.”, jawabnya lirih, hampir tak terdengar olehku.

Aku langsung tersenyum lebar. Melihatku, Sulis pun juga tersenyum. Tidak ada kata-kata lagi yang kami ucapkan, kami hanyut dalam perasaan masing- masing. Mata kami berdua menerawang jauh, membayangkan indahnya hidup.

Di pantai, masih terdengar suara anak-anak yang bermain air, suara gemerisik ombak yang menerpa tepian pantai, sayup-sayup juga terdengar suara motor dari perahu penyeberangan.

Cahaya matahari pun semakin memerah. Burung-burung camar terbang membentuk tanda panah, kembali ke sarangnya. Hembusan angin pantai yang sejuk mengingatkan kami kalau saat itu sudah senja. Ya, senja di utara Jawa, yang membawa kebahagiaan bagi kita semua yang menikmatinya.

***

“Ito, bangun. Udah sore nih, mau pulang nggak?”, Anwar membangunkanku. Aku langsung memicingkan mata, silau.

“Kita lagi dimana sih, kok pakai acara pulang segala?”, aku bertanya sambil bangun dari tidurku.

“Yah, dia ketiduran. Ini di pulau Untung Jawa, kan kita tadi pagi berangkat kesini.”, Arif langsung menjawab pertanyaanku.

“Iya, tadi kamu ketiduran, nggak lama setelah yang lain pergi.”, Sulis menambahkan.

“Hah? Jadi kita….”, aku tidak jadi melanjutkan.

“Kita apa? Udah, cepat bangun. Nanti ditinggal lho.”, Sulis beranjak dari duduknya, sementara yang lain sudah berjalan agak jauh.

Aku langsung bangkit berdiri, lalu berlari menyusul Sulis dan yang lainnya. Ternyata cuma mimpi. Aku mengusap-usap muka, lalu mengacak-acak rambutku. Bahkan sesekali aku menampar pipiku, hanya untuk memastikan bahwa aku sudah benar-benar sadar.

Melihat tingkahku, Sulis tersenyum lalu berbisik, “Aku tahu kamu tadi mimpi apa.”

“Serius kamu?”, waduh, gawat ini kalau sampai Ia tahu.

“Ini jadi rahasia kita aja ya.”, jawabnya sambil mengerlingkan matanya kearahku, kemudian berlari menyusul Lia dan Aisyah yang berjalan paling depan.

Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya. Suasana pantai dikala senja memang tiada duanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s