Assalamu’alaikum wr. wb.

Kali ini SayaNee mau update blog ah, udah lama nggak nulis disini. Tapi pas lagi nggak ada ide nih, kalo gitu posting tulisan yang lama aja ya. Dulu pernah ikutan lomba penulisan cerpen Profetik antar mahasiswa, Alhamdulillah bisa masuk nominasi walaupun nggak juara, soalnya bikinnya aja nggak terlalu serius, cuma sekitar 3 jam tanpa diedit, hehe. Kok malah curhat ya? Sudahlah, langsung aja….

STUDI CINTA ISLAMI

Akhirnya aku kembali lagi kesini, ke kampusku 4 tahun yang lalu, dimana aku pernah hampir saja menyesal karena kupikir aku salah jurusan. Aku kuliah jurusan Teknik Informatika, meskipun aku tidak terlalu tertarik akan hal-hal yang berbau teknologi. Memang, dulu aku memilih jurusan ini karena desakan orangtua, karena mereka pikir jurusan ini cocok untukku. Meskipun ini salahku juga, tidak memikirkan mau melanjutkan kemana saat lulus SMA nanti, tapi sudahlah, memang sudah terjadi. Lagipula banyak keuntungan yang bisa diambil selama kuliah di kampus ini. Karena disini lebih terkenal dengan ilmu keislamannya, jadi orang lain mengira lulusan dari sini pasti sudah pintar urusan agamanya, jadi ada tuntutan untuk mempelajari ilmu agama secara dalam, baik itu jurusan agama ataupun umum.
Tiba-tiba handphone-ku berdering, “Assalamu’alaikum?”
“Wa’alaikum salam, ini dengan bapak Latif?”, terdengar suara orang yang meneleponku.
“Iya, saya sendiri, ada apa?”
“Maaf pak, saat ini saya sedang rapat hingga jam 5 sore dengan para staf. Bapak bisa tunggu di
lobby Fakultas Teknik tidak?”
Kulihat jam tanganku, masih pukul 4 sore. “Baiklah, saya tunggu di Fakultas ya.”, jawabku.
“Mohon maaf baru memberitahu. Terimakasih ya pak, wassalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Karena masih cukup lama, aku pun memutuskan untuk berkeliling dulu, lagipula Fakultas Teknik, fakultasku dulu, terletak di bagian belakang, jadi tidak ada salahnya untuk berjalan -jalan. Melewati Student Center, terlihat masih sama seperti dahulu. Banyak mahasiswa-mahasiswa duduk di lantai, membentuk beberapa lingkaran. Masing -masing kumpulan memiliki pembahasannya masingmasing. Ada yang membahas tentang kegiatan kampus, komunitasnya, ataupun ada juga yang melakukan prospek MLM. Aku terkadang tertawa sendiri mendengar konsep ini, karena mereka ratarata mengincar orang yang masih muda, terutama mahasiswa, mungkin karena semangat kerjanya tinggi.
Di depan Perpustakaan Utama, aku berhenti sejenak melihat suasana yang ada disekitarku. Banyak mahasiswi lalu lalang. Inilah salah satu alasan mengapa aku memilih kuliah disini. Dari dulu aku suka melihat wanita berhijab. Menurutku, wanita berhijab lebih sopan dibandingkan dengan yang tidak berhijab. Meskipun ada beberapa diantara mereka yang menganggap berhijab sebagai kewajiban dari kampus, dan diluar kampus mereka melepasnya. Tapi itu tanggung jawab mereka sendiri, bukan urusanku. Lagipula dari penampilan juga bisa terlihat, apakah mereka memakai hijab dengan syar’i atau tidak.
Pukul 16.20, aku sampai di Fakultas Teknik, tempat aku berjanji untuk bertemu dengan kenalanku. Saat melewati pintu masuk, aku merinding. Bukan karena ketakutan, tapi karena teringat akan semua kenangan yang pernah aku alami disini, terutama saat aku menyatakan perasaank u kepada wanita yang saat itu paling kucintai. Wanita yang menurutku sholehah, baik, dan cerdas.
Akupun langsung duduk di tangga dekat lobby, sambil mengenang masa-masa kuliahku dulu, terutama tentang kebiasaan kami di kampus. Pada saat aku kuliah, jika selesai kelas terakhir, sebagian diantara kami masih ada yang tetap didalam kelas. Ada yang belajar, me-review pelajaran hari itu, diskusi mengenai tugas kampus, ataupun hanya sekedar memanfaatkan fasilitas wi-fi yang disediakan. Bahkan jika satpam kampus belum menyuruh kami pulang, kami bisa sampai larut malam berada disitu.
Salah satu mata kuliah favoritku adalah Studi Islam. Pada Studi Islam 2, Dosen kami, Profesor Hisyam, memberikan tugas kepada kami untuk membuat makalah tentang Sumber-Sumber Ajaran Islam, yang dibagi per kelompok kemudian dibahas satu persatu. Mungkin menurut sebagian orang, dosen ini termasuk dalam kriteria dosen pemalas, sehingga mereka kurang maksimal dalam pengerjaan makalahnya. Awalnya juga menurutku begitu, tapi aku punya pendapat pribadi mengenai hal ini.
Aku sudah pernah diajar oleh Profesor Hisyam sebelumnya dalam mata kuliah Studi Islam 1. Saat itu, beliau memberikan tugas kepada kami untuk membuat makalah tsentang masa -masa pemerintahan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Aku berpikir kalau beliau termasuk dalam kriteria dosen pemalas, sehingga aku pun kurang bersemangat mengerjakannya, tapi ada satu kejadian yang membuatku berpikir lain.
Saat itu kelompok temanku yang membahas tentang masa transisi kepemimpinan Rasulullah dengan Khulafaur Rasyidin baru selesai menjelaskan materinya, dan menanyakan apakah ada yang ingin bertanya. Karena tidak ada yang bertanya, akhirnya Profesor Hisyam menanyakan tentang detail bagaimana kejadiannya saat itu, mengapa bisa terpilih Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai Khalifah menggantikan kepemimpinan Rasulullah. Karena temanku tidak bisa menjawab, beliau akhirnya menanyakan kepada yang lain, apa ada yang bisa menjawab. Aku dan teman-temanku yang lain diam saja, entah karena bosan ataupun mengantuk.
Saat beliau ingin menjelaskan, salah seorang diantara kami mengangkat tangan, “Saya akan mencoba untuk menjawabnya pak.”
Aku yang sedang iseng mencoret-coret buku catatanku langsung melihat asal suara itu. Aya, teman sekelasku, satu diantara sedikit wanita yang masuk jurusan Teknik Informatika, mengacungkan tangan dan berdiri.
Kemudian Aya menjelaskan tentang proses transisi kepemimpinan waktu itu, mulai dari wafatnya Rasulullah, terjadinya keributan sesama muslim karena perdebatan dalam menentukan siapa pengganti selanjutnya, hingga terpilihnya Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai penerus tonggak kepemimpinan umat Islam sepeninggal Rasulullah.
Temanku yang selalu datang pada mata kuliah Studi Islam mungkin tidak heran akan cara Aya menjelaskan, karena memang dalam beberapa pertemuan sebelumnya, terkadang ia ikut membantu menjelaskan materi yang kurang dipahami. Tapi bagiku yang baru kali ini melihat cara Aya menjelaskan sesuatu, sangat menarik untuk disimak.
Kulihat sekilas Profesor juga tersenyum sambil menyimak penjelasan Aya yang cukup panjang. Dan begitu Aya selesai berbicara, Profesor menambahkan beberapa hal yang belum dijelaskan Aya, mulai dari keributan antara pendukung Abu Bakar Ash-Shiddiq dan pendukung Ali bin Abi Thalib hingga Abu Bakar yang awalnya menolak untuk dicalonkan kemudian bersedia menerimanya. Akupun kagum mendengar penjelasan beliau yang sangat detail, hingga seakan -akan kita berada di zaman itu dan menyaksikan semuanya. Memang tidak percuma gelar Profesor yang disandangnya, pikirku.
Mulai dari situlah aku tertarik untuk mengikuti mata kuliah Studi Islam. Waktu pergantian semester aku takut tidak diajar lagi oleh Profesor Hisyam pada mata kuliah Studi Islam 2, tapi Alhamdulillah aku berkesempatan lagi mengikuti mata kuliahnya.
Di Studi Islam 2, aku sekelompok dengan Aya. Diluar jam kuliah, kamipun banyak berdiskusi mengenai tugas makalah kami berikutnya yaitu tentang karakteristik dari masing masing sumber ajaran Islam. Sebenarnya kalau disebut berdiskusi pun tidak dianggap begitu, karena aku lebih banyak mendengarkan Aya dalam menjelaskan sesuatu. Pengetahuannya akan Islam memang cukup luas, hingga aku pernah iseng bertanya padanya,
“Ay, kamu lulusan pesantren ya?”
“Kamu tahu darimana, kok bisa mengambil kesimpulan kalau aku lulusan pesantren?”
“Soalnya kamu tahu banyak tentang Islam, biasanya kan yang begitu itu lulusan pesantren, benar nggak?”, kataku sambil tersenyum, tebakanku benar.
“Salah, aku lulusan SMA biasa kok”, jawabnya sambil tersenyum.
Aku langsung bengong. Aya langsung menahan tawa sambil menutup mulutnya.
“Aku serius, memang aku lulusan SMA, tapi aku suka belajar mengenai hal yang belum aku tahu, makanya aku bisa ngerti.”, jawabnya setelah ia berhasil menahan tawanya.
“Oh, begitu”, jawabku kagum, salut akan kemampuannya menyerap materi.
Kamipun kembali melanjutkan pengerjaan makalah, karena bukan hanya Aya saja, akupun berpikir kalau materi kami itu ringkasan keseluruhan dari materi-materi kelompok lain, hingga harus dibahas satu persatu. Kebetulan kelompok kami maju paling akhir, hingga ada banyak waktu untuk merevisi materinya.
Saat waktunya kelompok kami maju, tidak ada pertanyaan yang diajukan, bahkan oleh Profesor Hisyam sekalipun. Mungkin karena beliau menganggap materi yang telah kami jabarkan sudah sangat jelas dan sudah pernah dibahas pada materi sebelumnya. Dan ketika kelas Studi Islam 2 pun berakhir, terlihat sedikit kekecewaan pada wajah Aya. Ia tidak langsung pulang seperti yang lainnya, tapi duduk terdiam memandangi keluar jendela. Aku menunggunya, karena aku masih ingin belajar tentang Islam darinya. Sambil menunggu, aku membaca kumpulan makalah yang dikerjakan oleh kelompok lain.
“Latif, belum pulang?”
Aku langsung menoleh, ternyata ia sudah didekat pintu. Aku langsung menghampirinya, “Belum, kan nunggu kamu. Masih mau belajar banyak dari kamu.”
Sambil menuruni tangga, kami berdiskusi tentang banyak hal, bahkan ia menjelaskan berbagai macam pendapat para ulama tentang bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya. Meskipun itu hal yang menurut orang lain dianggap sepele, tapi sebenarnya penting. Hingga sampai di lobby, aku bertanya kepada Aya.
“Ay, kamu tadi kenapa saat selesai mata kuliah, bengong melihat keluar jendela, lagi mikirin apa?” ia tidak langsung menjawab, malah bertanya padaku.
“Tadi kan kamu tanya tentang bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya. Menurut kamu pribadi itu boleh nggak?”
Aku berpikir sejenak, “Menurutku selama nggak ada nafsu, boleh aja. Contohnya begini nih.”, sambil memegang tangan Aya. Ia langsung menepis genggaman tanganku. Aku tertawa, “bercanda Ay, maaf ya.”
“Nggak apa-apa kok, pendapatku juga sama kayak kamu.”
“Jadi boleh dong. Asik.”, akupun tertawa lagi. Ia juga ikut tertawa tertahan sambil berkata, “Tetap aja bukan muhrim.”
“Berarti kalau sudah muhrimnya, boleh dong.”
“Boleh sih.”, jawabnya sambil menunduk. Akupun langsung memandangnya dengan serius.
“Memang kamu mau jadi muhrim aku?”, tanyaku. Gawat nih kalau sampai nggak mau, bisa-bisa kehilangan teman.
Ia langsung menatapku dengan serius, baru kali ini aku lihat dia seperti ini. “Memangnya kamu siap nunggu aku?”
Aku semakin bingung, “Nunggu apaan?”
“Aku masih ingin belajar, masih ingin melanjutkan ke S2, masih ingin mengeksplor diri lebih dalam lagi. Apa kamu mau nunggu selama itu?”
Sudah aku duga ia menjawab seperti ini, “Insyaallah siap.”, kataku mantap.
“Apa kamu siap menghadapi sikap aku yang sebenarnya kamu belum tahu? Biasanya kan yang seperti itu baru terlihat saat sudah menikah. Memang kamu mau menanggung segala resikonya? ”
Aku menghela nafas, “Insyaallah kalau memang kita berjodoh, aku yakin aku akan siap.”
Aya kembali menunduk sambil menjawab lirih, “kalau begitu, tolong tunggu aku.”
Aku bengong, “Kamu serius ay?”
“Memang ini yang kupikirkan tadi di kelas, kebetulan kamu bilang duluan.”, jawabnya sambil tersenyum.
“Alhamdulillah. Jadi sekarang kita pacaran dong?”, tanyaku pura-pura memancing. Akhirnya.
“Enak aja, pacaran kan nggak ada dalam Islam. Pegangan tangan aja diperdebatkan, apalagi pacaran.”, sahutnya sewot. Aku makin bingung, “Terus?”
“Kita berteman aja, sikap kita tetap sama seperti sebelumnya. Tapi kalau kita bisa mempertahankan perasaan kita masing-masing, mungkin kita bisa menjadi teman hidup nantinya.”, Aya kembali tersenyum.
Akupun ikut tersenyum, “Insyaallah perasaan aku nggak akan berubah ke kamu.”
“Yaudah, pulang yuk.”, Aya menarik lenganku. Aku langsung protes, “katanya nggak boleh pegangan.”
“Kan selama nggak bersentuhan langsung, nggak apa-apa.”, ujarnya sambil tertawa.
“Dasar curang. Yaudah, terserah kamu aja.”, aku hanya bisa tersenyum kecil, Aya pun semakin mempererat pegangannya.
Itulah pertama dan terakhir kali aku jalan berdua dengan Aya, karena setelah itu kami sibuk dengan urusan masing-masing, apalagi saya tidak mengambil kelas yang sama dengannya.

****

“Pak Latif, dari tadi saya panggil kok diam saja.”, terdengar suara orang yang membuyarkan lamunanku.
“Oh, maaf. Tadi lagi asyik bernostalgia.”, Jawabku sambil bangkit berdiri.
“Pasti mikirin saya ya, nggak usah dipikirin pak, saya nggak bakal kemana-mana kok.”, sahutnya sambil tertawa. Aku hanya bisa tersenyum tipis.
“Mari pak, kita berangkat lagi. Nanti keburu terlalu malam, kasihan kalau yang lain sudah menunggu”, tegurnya kembali.
“Oh iya. Ayo kalau begitu.”, ia langsung memegang lenganku.
Aku kembali tersenyum. Aya, calon istriku, berdiri di sampingku. Sudah sebulan terakhir ini kami kembali bertemu, membicarakan masa depan yang pernah kami rancang dulu. Ia baru lulus S2 sekitar 6 bulan yang lalu, dan menjadi dosen di kampus tempat kami kuliah dulu. Saat itu aku berpikir kalau dia sudah menikah, ternyata ia masih menungguku. Perasaannya sama seperti dulu, tidak pernah berkurang sedikitpun, bahkan malah bertambah. Sama sepertiku yang masih setia menunggunya. Dan sekarang, kami akan menghadap keluarganya, membicarakan tentang pernikahan yang akan dilangsungkan kurang dari 2 bulan lagi. Tak henti-hentinya kuucap Alhamdulillah, atas hasil
dari kesabaran kami.

SEKIAN

😀

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s