a.      Sastra Pop
Pengertian Sastra Pop
Sastra pop adalah sastra yang unsurnya lebih mementingkan fungsi rekreatif, yaitu memberikan rasa senang serta menghibur pembaca karena cara penyampaiannya sederhana dan mudah dipahami.
Sastra popular, atau yang lebih dikenal dengan sebutan sastra pop, dianggap sebagai sastra yang esensinya lebih rendah dari sastra non-pop. Sastra pop dianggap tidak memiliki keindahan dari segi pemaknaan karena sekali baca seorang pembaca bisa langsung mengetahui makna yang ingin disampaikan oleh pengarang tanpa tudung aling-aling. Tidak seperti sastra non-pop, sastra pop cenderung lebih mengutamakan permintaan pasar daripada keindahan estetik yang tersaji lewat penyampaian maupun makna yang tersirat di dalam karya tersebut.Sastra masa kini, yang dikenal dengan sastra popular, memiliki perbedaan yang sangat mencolok dengan sastra yang berkembang pada zaman dulu atau sastra non-pop. Jika dulu kita mengenal Pramudya Ananta Toer dengan sastra realisme sosialisnya, maka kini bermunculan sastra beraliran – saya menyebutnya sebagai – “sastra realisme kapitalis”.
Realisme sosialis sendiri adalah sebuah aliran seni yang muncul pada masa awal revolusi Rusia. Apa yang disebut “realisme sosialis” dalam wacana seni dan kebudayaan adalah sebagai alat perjuangan kelas. Aliran ini muncul karena usaha untuk memperbaiki seluruh krisis yang melanda melalui medium seni benar-benar mustahil dilakukan, kecuali dengan revolusioner.
Klaim realisme sosialis ini secara sederhana bisa dikatakan mendasarkan diri pada teori dialektika Marx, dimana realitas diletakkan sebagai esensi dari hal-hal yang tampak (materi). Dalam tradisi rusia, realisme sosialis sebagai aliran estetis dilembagakan keberadaannya menjadi semacam ideology atau paham yang dianut oleh sastrawan atau seniman (Eka Kurniawan “Pramudya Nanta Toer dan Sastra Realisme Sosialis”).
Aliran ini banyak diadopsi oleh sastrawan maupun seniman “kiri” yang kebanyakan hidup di dalam sebuah negara yang dipimpin oleh pemerintahan yang fasis. Di Rusia misalnya, ada Maxim Gorki dengan triloginya: Childhood, My Apperenticeship, dan My Universities. Di Cina ada Lu Hsun dengan beberapa novelnya, di antaranya adalah AQ Chengcuan. Di Indonesia ada Pramudya Ananta Toer dengan tetralogi Karya Buruh-nya.
Sedangkan “realisme kapitalis” sendiri, menurut saya, adalah sebuah aliran seni yang muncul pada masa ketika sastra yang “berat” atau sastra yang memerlukan pengetahuan lebih luas untuk memperoleh makna yang tersirat dalam karya tersebut mulai ditinggalkan pembaca yang beralih pada bacaan yang yang mudah dimengerti tanpa membaca ulang. Jika yang dicari oleh sastra realis adalah sebuah keadilan, maka yang dicari oleh sastra kapitalis adalah keuntungan.
Jika mau menghitung, tidak sedikit penulis yang mau menulis hanya karena kesadaran akan materi, bukan kesadaran mendalam atas realitas ada di sekitar masyarakat sekitarnya sehingga kualitas dari karya tersebut tergolong rendah.
Melihat kenyataan ini, dapat diambil sedikit kesimpulan dari beberapa kesimpulan yang tidak bisa sebutkan satu persatu, yaitu sastra di negara ini mengalami sedikit kemunduran apabila dibandingkan dengan zaman dulu. Karya sastra zaman dulu (sastra non-pop) lebih mementingkan unsure perjuangan untuk mendapatkan keadilan serta perlakuan yang layak. Sedangkan karya sastra yang banyak bermunculan pada masa kini cenderung lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau pihak-pihak tertentu (penerbit misalnya)
Contoh Sastra Pop :
·         Hanya Dia yang Ku Cinta
·         Perempuan yang Ku Sayang
·         Barong (Montinggo Busye)
·         Klise merah Jambu (Mira W)
b.      Sastra Picisan
Pengertian sastra picisan :
Sastra picisan adalah salah satu istilah yang dipakai beberapa pakar sastra untuk menyebut sastra populer. Memakai kata “picisan” karena “isi” dari karya itu tidak ada yang bisa diambil, pembaca hanya memperoleh hiburan murahan. Karya semacam ini tidak membuat pembacanya berfikir dan meningkatkan kualitas kemanusiaannya. Sastra seperti ini dianggap sampah, ‘sudra’ dan tak layak baca.
Sastra picisan mempunyai standart kualitas, mutu dan selera yang rendah, yang ditampilkan seakan-akan baru dan inovatif, padahal hanya mengulang dan mengimitasi apa yang telah ada sebelumnya. Berdasarkan pandangan modernis, sastra picisan termasuk ke dalam kategori ‘budaya rendah’, karena merayakan selera masa atau orang kebanyakan demi mendapatkan popularitas dan keuntungan dengan cepat.
Mungkin beberapa teman masih mengingat mengenai karya-karya yang sedemikian ini
sebuah novel tipis yang isinya tidak pernah lari dari pembicaraan yang membuat syahwat yang membaca “bergelora”-jika pun dapat dikatakan demikian
Contoh  Sastra Picisan :
·         Napsu Gila
·         Tante Girang (Ali Shahab)
·         Dalam Cengkraman Iblis
·         Arwah yang Tersia-sia
·         Babi ngepet dan Penghisap Darah (Abdullah Harahap)
c.       Sastra Pendidikan
Pengertian Sastra Pendidikan :
Sastra pendidikan adalah sastra yang unsurnya lebih mementingkan fungsi didaktif, yaitu mendidik para pembaca karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang ada didalamnya.
Karya sastra klasik umumnya sama dengan karya sastra pendidikan, karena mengandung nilai-nilai pendidikan yang dominan. Hal ini memang dapat dipahami karena peranan karya sastra pada zaman dahulu tidak sekedar sebagai media hiburan, melainkan juga sebagai media didaktis. Cerita-cerita binatang (fabel), misalnya, sesungguhnya merupakan personifikasi dari kehidupan manusia. Isinya merupakan nasehat dan pelajaran. Orang-orang yang mendengarkannya itu tidak lah merasa digurui.
Contoh Sastra Pendidikan :
·    Lebai Malang, yaitu cerita yang berkembang dalam masyarakat melayu. Ceriitanya sarat dengan petuah-petuah dan ajaran moral. Namun, cara penyampaiannya yang penuh humor, maka yang didongengi tidak lagi merasa diajari. Padahal nilai-nilai moral itu disampaikan secara langsung, boleh jadi diantara kita banyak yang tidak mau mendengarkannya karena merasa bosan atau karena tersindir.
·    Malin kundang, yaitu cerita yang populer dalam masyarakat melayu. Ceritanya tentang seorang anak miskin yang pergi merantau, kemudian menjadi kaya. Pada suatu hari dia kembali ke kampungnya sebagai seorang nahkoda sebuah kapal besar dan indah. Isinya bermacam-macam barang dagangan yang mahal-mahal. Mendengar malin kundang datang, ibunya yang sudah renta dan uzur ingin sekali bertemu dengan anaknya. Dia rindu kepada anaknya karena sudah lama pergi merantau. Tetapi, malin kundang tidak mau nengakui perempuan tua itu sebagai ibunya. Dia malu. Ibunya mengutuk Malin Kundang dan menjadi sebuah batu besar ditepi pantai.
·    Siti Nurbaya
·    Salah Asuhan
 Perbedaan antara Sastra Pop, Sastra Picisan dan Sastra Pendidikan
Sastra Pop
Sastra Picisan
Sastra Pendidikan
Sastra yang unsurnya lebih mementingkan fungsi rekreatif, yaitu memberikan rasa senang serta menghibur pembaca karena cara penyampaiannya sederhana dan mudah dipahami.
Salah satu istilah yang dipakai beberapa pakar sastra untuk menyebut sastra populer. Memakai kata “picisan” karena “isi” dari karya itu tidak ada yang bisa diambil, pembaca hanya memperoleh hiburan murahan. Karya semacam ini tidak membuat pembacanya berfikir dan meningkatkan kualitas kemanusiaannya. Sastra seperti ini dianggap sampah, ‘sudra’ dan tak layak baca.
Sastra yang unsurnya lebih mementingkan fungsi didaktif, yaitu mendidik para pembaca karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang ada didalamnya.
     Persamaan Sastra Pop, Sastra Picisan dan Sastra Pendidikan
a.       Sama-sama sebagai suatu karya sastra
b.      Sama-sama menarik untuk dibaca
c.       Sama-sama memiliki nilai komersil
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s