Bisa ketemu nggak? Ada yang pengen aku omongin nih, berdua aja.”, sebaris sms itu kubaca, dari Irma, kekasihku. Tumben, tidak biasanya dia sms dulu sebelum bertemu. Biasanya sih dia langsung nyamperin ke kantorku, atau malah kerumahku. Apalagi saat itu aku sedang berada dikantor, harusnya sih pas istirahat juga bisa. Tapi yasudahlah…
Kubalas, “Nanti pas aku pulang kantor aja ya. Kalo mau ngobrol, di taman biasa aja.”
Aku ada perlu dulu, kamu tunggu disana aja.”, Balasnya.
Tadinya aku mau nanya, apa yang pengen dibicarain, tapi nanti ajalah, sekalian ketemu. Akupun kembali melanjutkan mengerjakan tugas kantor. Maklum, dikejar deadline.

****

“Rian!”, teriaknya sambil berjalan menuju kearahku. Rambutnya yang bergelombang berkibar diterpa angin yang cukup kencang. Maklumlah, sudah sore.
“Aku kangen banget tau sama kamu.”, katanya sambil mencium pipiku. Kubalas dengan mencium keningnya.
“Baru kemaren ketemu, masa udah kangen lagi sih?”, kataku sambil tertawa. Iapun cemberut sambil mencubit lenganku.
“Buruan, tadi katanya ada yang mau diomongin, apaan?” Tanyaku kepadanya. Ia masih terdiam sambil melamun, wajahnya terlihat sedih.
“Aku…….”
“Kamu kenapa, sakit?”
“Bukan itu.”
“Terus kenapa?”
“Aku……. Aku hamil yan.”, Katanya sambil menatap mataku. Saat itu juga aku bagai mendengar suara petir. Kakiku lemas, kepalaku pusing, matakupun berair. Tidak mungkin, pikirku.
“Kamu serius?”, Irma, kekasihku yang sangat kucintai itu hanya bisa mengangguk sambil tertunduk sedih.
“Kalo gitu kita putus. Kamu tau kan konsekuensi hubungan kita, bahaya tau.”, Aku berkata dengan nada yang agak keras, Irma terhenyak, kaget.
“Tapi…”
“Tapi apa, kamu kan udah punya suami. Bisa aja itu anak dari suami kamu kan?”
“Tapi aku cuma pengen sama kamu. Aku cinta banget sama kamu, yan.”, Iapun mulai menangis sesunggukkan.
“Aku juga cinta sama kamu. Tapi kamu tau kan aku ini apa? Aku ini WANITA, sama kayak kamu.”, Kataku sambil memeluknya.
“Sudahlah, kembalilah ke suamimu. Aku yakin dia pasti senang mendengar kabar gembira ini. Dan kita harus mengakhiri hubungan kita ini sebelum semuanya terlambat.”, Ia mengangguk.
“Aku pulang dulu ya, makasih untuk semuanya.”, Irmapun berlari meninggalkanku, sendiri di taman itu.

Inilah aku, Rianti. Biasa dipanggil Rian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s