Siang itu sangat terik, terutama di salah satu pemakaman yang terletak di bilangan Jakarta Pusat. Burhan, penjaga makam disana, melangkah menuju mushola kecil yang terletak di dekat pintu masuk pemakaman, karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, sementara ia belum menunaikan sholat dzuhur. Saat ia sedang berjalan, ada yang memanggilnya, “Burhan, kesini sebentar.”, rupanya Dedi, temannya semenjak ia kecil dan tumbuh bersama sebagai penjaga makam. Iapun menghampirinya. “Ada apaan Ded, tumben panggil gue?”, Dedipun mejawab, “Itu, ada yang baru meninggal. Tadi gue diminta ajak teman-teman yang lain supaya kita cepat-cepat gali untuk makamnya, soalnya sore ini mau langsung dimakamin.”

“Lu duluan aja deh, gue mau sholat dulu sebentar. Nggak apa-apa kan?”, Jawab Burhan sambil menutupi matanya akibat panas matahari yang menyengat dan hampir mengaburkan pandangannya. “Oke deh, jangan lupa ya.”, sahut Dedi seraya pergi menuju tempat ia akan menggali lubang makam.

Sesampainya di mushola, Burhanpun membersihkan tangan dan kakinya sebelum berwudhu. Ia selalu ingat pesan orangtuanya, sholatlah dalam keadaan suci dari segala kuman, baik yang terlihat maupun tidak terlihat. Meskipun waktu pertama kali Burhan bingung saat mendengar kalimat tersebut, namun kini ia telah memahaminya. Bersihkanlah badanmu dan hatimu, begitu menurutnya.

***

“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga.”, gumam Burhan sambil mengusap peluh yang bercucuran dari kening dan lehernya yang hitam akibat terus menerus terpanggang sinar matahari. Setelah ini ia akan pulang ke rumahnya di belakang kompleks pemakaman ini, karena tugasnya hari ini sudah selesai. Hujan rintik-rintik pun mulai membasahi area pemakaman ini, sekaligus membasahi pakaian Burhan yang memang sudah basah bermandikan keringat.

“Pulang yuk, udah sore nih.”, ujarnya ke Dedi, temannya yang sedari tadi asyik melamun di sampingnya. “Eh, kaget gue. Kirain siapa.”, Dedi tersentak, kemudian tersenyum ke arahnya. “Lu dari tadi ngelamunin apaan sih, kayaknya serius banget.”, Burhan bertanya sambil berjalan menyusuri area pemakaman yang sedari kecil sudah menjadi seperti lahan bermainnya itu. “Nggak kok, nggak apa-apa.”, Jawab Dedi sambil menunduk, iapun kembali murung seperti tadi.

“Ah elu, kayak sama orang lain aja. Cerita aja sih, ada apaan ?”, tanya Burhan sambil tertawa kecil. “Ini nih, gue pengen minta tolong sama lu. Tapi gue nggak enak, takut ngerepotin lu.”, Sahut Dedi sambil berjongkok untuk memungut botol air mineral plastik, lalu ia membuangnya pada tempat sampah tidak jauh dari situ.

“Yaudah, bilang aja. Kalo gue bisa bantu ya gue bantu. Tapi kalo gue nggak bisa, paling nggak kan lu udah cerita sama gue. Kali aja gue bisa bantu cari solusinya.”, Burhan berkata sambil menepuk punggung sahabatnya itu. Mereka berdua memang sudah berteman dari kecil, selain karena rumah mereka berdekatan, mereka juga senasib. Sejak kecil mereka sudah terbiasa bekerja di area pemakaman ini, karena orang tua mereka bekerja disini.

“Gini nih, gue pengen pinjem duit, buat makan nanti malem aja. Kira-kira lu ada ga?”, ujar Dedi pelan, takut kalau sahabatnya itu marah. Burhan pun tertawa, “hehehe, kirain apaan. Lu kayak nggak kenal gue aja, mau pinjem duit tapi takut-takut. Alhamdulillah tadi gue ada rejeki. Udah, nanti gue beliin makanan. Nggak usah diganti, kayak sama siapa aja lu.”

“Serius? Wah, makasih banyak kalo gitu. Gue takutnya hubungan pertemanan kita jadi ga enak gara-gara gue pinjem duit ke lu. Makanya gue rada takut.”, Dedi berkata dengan wajah berbinar-binar, karena ternyata sahabatnya itu tidak marah kepadanya.

“Nggak apa-apa kok, kan sesama teman senasib dan seperjuangan, kita harus saling menolong.”, sahut Burhan sambil tersenyum.

“Makasih banyak ya, gue jadi ngerepotin nih. Eh, ngomong-ngomong dari tadi ujannya ga berhenti-berhenti nih, padahal mataharinya masih nongol.” kata Dedi sambil mengusap rambutnya yang basah terkena siraman air hujan yang belum berhenti sejak mereka selesai bekerja tadi.

“Ada yang bilang sih ini ujannya orang meninggal. Jadi kalo ada yang meninggal terus ujannya kayak gini, jadi orang itu tuh tandanya orang sholeh.” sahut Burhan sambil menengadah ke langit. Memang benar, walaupun senja, matahari masih bersinar tapi hujan tak kunjung berhenti.

“Alhamdulillah kalo begitu, jadi kita tadi udah bantu memakamin orang sholeh.”, Dedi memindahkan posisi cangkulnya ke pundak sebelah kiri.

“Ded, kalo gue meninggal duluan, nanti lu yang makamin gue ya.” Burhan berbicara sambil tertunduk. Dedi pun melihat ke arah Burhan, “Lu ngomong apaan sih, kita semua juga pasti bakal mati kan.”

“Iya sih, tapi gue pengennya nanti kalo gue meninggal, lu yang nguburin gue. Begitu juga sebaliknya, kalo lu yang duluan, gue bakal nguburin lu.” Sahut Burhan sambil tersenyum tipis.

“Yah, itu semua kan tergantung sama takdir. Kita semua kan pastinya bakalan mati, tapi ga tau kapan. Udah ah, gue duluan ya.”, Dedi pun masuk kedalam rumahnya, karena tanpa terasa, mereka sudah sampai dekat rumah.

***

“Ded, makan yuk. Kan gue udah janji sama lu.”, sahut Burhan kepada Dedi yang saat itu sedang asyik menonton TV dirumah Burhan. Dedi memang tiap malam sering numpang nonton TV dirumahnya, karena ia tidak mempunyai TV, sudah dijual karena waktu itu Ayahnya sakit dan membutuhkan biaya banyak. Bahkan Dedi sampai putus sekolah. Dia hanya sekolah sampai kelas 2 SMP, karena waktu itu belum ada program BOS.

“Ayo, gue jadi ga enak nih.” Dedi pun beranjak dari tempat duduknya menuju keluar. Burhan pun mengunci pintu rumahnya dan mereka pergi ke warteg yang biasa menjadi langganan mereka. Semenjak mereka yatim piatu, mereka selalu makan di warteg itu. Selain karena tidak repot, harganya juga murah.

“Mbak Sum, saya kayak biasa ya.” Burhan berkata seraya duduk di kursi panjang khas warung tegal. Warung tegal ini tidak terlalu besar, tetapi makanan yang dijualnya beraneka ragam, sehingga pelanggan bisa memiliki banyak pilihan saat makan disini. Tempatnya juga cukup bersih untuk ukuran warteg. Apalagi rasanya. Makanya Burhan dan Dedi berlangganan disini.

“Ini mas Burhan, pesanannya. Kayak yang biasa tho? Minumnya sebentar yo“, kata mbak Sum sambil memberikan makanan pesanan Burhan. “Makasih yo mbak.”, jawab Burhan sambil mengambil kerupuk udang di toples bening yang cukup besar. Burhan suka sekali makan dengan kerupuk, apalagi kerupuk udang.

“Mbak, aku makannya pake sop, perkedel, sama usus ya. Minumnya air putih aja.”, Dedi ikut mengambil kerupuk dan mengunyahnya perlahan.

“Ded, gue ke seberang dulu ya, mau pesan roti buat sarapan besok.”, Burhan beranjak dari tempat duduknya.
“Tunggu dulu lah, makan dulu. Nanti kita bareng aja ke seberang.”, Dedi masih asyik dengan kerupuknya.
“Nanti gue keburu lupa. Lagian kalo nggak dipesan, takut besok keburu habis, lu makan duluan aja.”, Burhanpun pergi keluar dari warteg dengan agak terburu-buru.
Dedi pun mulai makan pesanannya, perkedel buatan Mbak Sum memang lain daripada yang lain, makanya Dedi selalu memesan perkedel tiap kali makan di warteg Mbak Sum.

Tiba-tiba…
CKITTTTT !!!!!!!!!!
BRAKKKKKKK !!!!!!!!
“Woi, ada yang ketabrak tuh !”, terdengar suara orang berteriak. Karena penasaran, Dedi pun bergegas keluar. Alangkah kagetnya ketika ia melihat korban tabrakan tersebut.
“BURHAN!”, Dedi langsung berjongkok didekat Burhan, sahabatnya yang ternyata menjadi korban. Terlihat darah mengalir dari kepalanya.

***

Dedi mengelap dahinya yang basah karena keringat bercampur dengan air hujan yang baru saja turun. Ia baru saja menggali makam, tetapi kali ini ia merasa lelah bercampur dengan sedih, karena yang baru saja dimakamkan yaitu temannya sendiri, Burhan. Dengan gontai ia berjalan meninggalkan makam sahabatnya sambil bergumam, “Selamat jalan sahabatku, aku telah menepati janjiku, memakamkanmu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s