“Apa sih status itu? “, saya berpikir begitu saat melihat orang-orang jaman sekarang begitu meributkan soal status. Entah itu status sosial, status pernikahan, ataupun hanya status berpacaran atau tidak. Sebegitu pentingnya status itu sehingga orang-orang merasa pantas untuk meributkannya. Apakah alasannya hanya demi gengsi, ataupun iseng. Yang pasti saya tidak bisa terima itu.

Orang-orang memperebutkan jabatan demi status sosial yang tinggi di masyarakat. Ada lagi orang-orang yang memperebutkan pasangan, yang mungkin menurut saya sepele, hanya demi status ‘Berpacaran’ di facebook (ini yang menurut saya lebay). Semua itu hanya demi gengsi semata. Memangnya apa iya orang bisa hidup hanya dengan gengsi. Man, banyak hal lain yang lebih penting daripada cuma sekedar itu.

Mungkin saya dulu termasuk orang-orang seperti itu. Saya hanya pacaran dengan orang yang menurut kriteria saya ‘Cantik’ hanya untuk gengsi. “Cewek gue cantik loh”, “cewek gue manis loh”, begitu. Tapi apa yang gue dapet? Nggak ada. Itu semua cuma kebanggaan sesaat yang nantinya akan hilang. Apalagi setelah saya tahu kalau pacar saya itu mempunyai kelakuan buruk yang tidak bisa saya tolerir sedikitpun. Mungkin pertama-tama tidak terlalu terasa, tapi semakin kesini, semakin menjadi.

Itulah yang membuat saya semakin merasa tidak nyaman. Untuk apa cewek cantik, kalau pikiran kita tidak sejalan. Untuk apa punya harta berlimpah kalau banyak yang sirik. Makanya alhamdulillah saya saat ini tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, karena kalau saya punya, saya takut jadi riya. Saya tidak mau itu terjadi kepada saya. Lebih baik saya punya sesuatu yang dimata orang biasa-biasa saja, tapi saya bangga dengan itu, daripada saya membuat orang lain sirik lalu berusaha menjatuhkan saya.

Jadi intinya, kalau punya sesuatu yang berlebih, tidak usah dibanggakan. Contohnya, lebih baik punya pacar yang biasa-biasa saja, tetapi pola pikirnya sejalan dengan kita, daripada punya pacar yang cantik, tapi kita jadi bahan pembicaraan orang banyak. Lebih baik punya harta cukup, lalu sisanya diberikan kepada yang lebih membutuhkan, daripada punya harta melimpah tetapi disekitar kita merana. Selalu lihat kebawah, jangan lihat ke atas. Padi saja makin berisi, makin merunduk. Masa’ kita tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s