Hari ini aku kembali bersekolah. Inilah pertama kalinya aku memakai seragam SMA, setelah kemarin-kemarin aku menghadapi masa orientasi. Kulihat ke cermin, ada sesosok wanita yang anggun disana, mengenakan seragam SMA, rambutnya terurai panjang, memiliki mata yang indah dan senyum yang menawan. ‘Pantas juga aku pakai baju SMA’, pikirku. “Dian, sarapan dulu nih. Nanti kamu terlambat lho.”, ibuku memanggil dari luar. Akupun langsung bergegas menuju ruang makan sambil membawa tas dan tidak lupa aku memasukkan buku yang berisi novel teenlit yang baru sebagian kutulis. ‘Kali aja bisa dilanjutin di sekolah.’

***

Di sekolah, keadaan berjalan seperti biasa. Aku mendapat beberapa teman baru, disamping teman-temanku sewaktu SMP dulu. Sayangnya tidak ada yang memiliki hobi yang sama denganku, yaitu membaca. Rata-rata mereka lebih suka nonton ataupun hanya sekedar jalan-jalan di mall. Maklum, anak jaman sekarang. Biarlah, yang penting aku suka dan mereka tidak menghinaku karena hobiku ini. Sepulang sekolah, aku mencari kios koran terdekat. Aku ingin membeli majalah langgananku. Sebenarnya keluargaku ingin aku berlangganan saja, tetapi aku tidak mau. “Hitung-hitung kasih rejeki buat orang lain.” Kataku saat itu. “Bang, majalahnya satu, yang itu”, kataku kepada penjual koran, dan diapun langsung mengambilkan majalah pesananku. Saat itupun mataku langsung tertumbuk kepada sesosok lelaki yang sedang duduk serius membaca majalah sampai-sampai tidak memperhatikan sekitarnya. Lelaki itu memiliki rambut yang pendek dan agak bergelombang, menggunakan kacamata, dan jika diperhatikan lebih dalam, ia sepertinya sosok yang menarik. ‘Jarang-jarang nih, cowok sekarang nongkrong di tempat beginian.’, pikirku heran. Setelah menerima kembalian, akupun pulang sambil berharap, cowok itu ada disitu pada esok hari. Meskipun aku hanya bisa melihatnya dari jauh, tapi itu sudah membuat hatiku cukup puas.

***

Sudah hampir 1 minggu aku selalu lewat kios koran itu, hanya untuk memastikan apakah ia ada disitu. Terkadang dia ada disana, meskipun ia tidak membeli apa-apa, tapi nampak ia terlihat akrab sekali dengan penjual koran itu. Jarang sekali kulihat seorang pemuda akrab dengan pedagang di pinggir jalan, karena banyak diantara mereka menyepelekan orang yang memiliki pekerjaan yang seperti itu. Tapi ini lain, hal inilah yang membuatku semakin penasaran kepadanya.

***

Sudah minggu kedua semenjak aku mulai berlangganan majalah di kios ini, tapi setiap aku membeli majalah, ia tak pernah datang. Padahal aku sangat ingin melihatnya, meskipun hanya sebentar. Aku ingin menegurnya, tapi aku malu. Malu karena aku tidak pernah menegur orang sebelumnya, apalagi jika itu lawan jenis. Aku takut disangka agresif, perempuan tidak tahu malu, atau semacam itu.

***

Minggu ketiga, aku sudah tidak banyak menaruh harapan lagi, mungkin dia memang sibuk dengan tugas sekolahnya. Seperti biasa, aku langsung membeli majalah kesayanganku, dan alhamdulilah, dia ada disana. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Sesudah aku menerima majalah, kusibakkan rambutku dan tanpa sengaja aku melihat ke arahnya, dan saat itu juga kedua mata kami bertemu. Seketika itu pula jantungku seperti berhenti berdetak, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku hanya bisa tersenyum, ‘mati gue.’, jeritku dalam hati. Untungnya saat itu lampu sudah merah, sehingga aku bisa langsung menyeberang jalan. Jika aku terlalu lama disitu, pasti dia tahu kalau aku salah tingkah.

***

Minggu keempat, akhirnya teenlit buatanku jadi juga. Ini adalah karyaku yang kelima, meskipun aku belum pernah mempublikasikannya. Aku selalu merasa teenlit buatanku selama ini masih kurang bagus. Aku ingin meminta pendapat orang lain, tetapi rata-rata temanku kurang suka membaca, kalau orangtuaku, pasti mereka akan bilang bagus-bagus saja, karena mereka tidak ingin melukai hatiku, padahal yang terpenting bagiku adalah penilaian yang jujur. Ya sudahlah, mungkin mereka terlalu sibuk, atau kurang mengerti tentang cerita jaman sekarang.

Kulangkahkan kakiku menuju kios majalah biasa. Aku pesan majalah yang biasa kubeli, dan sekali lagi, dia ada disana. Akupun langsung tersenyum kepadanya sesaat setelah membayar majalahku. Dan oh my god, dia nyamperin aku. Saat itu aku langung tidak bisa bergerak, ingin aku lari, tapi nggak mungkin.

Iapun langsing menegurku, “Selera lu bagus, itu majalahnya keren tuh, sayang isinya lebih buat cewek. Kalo buat cowok, pasti gue juga udah langganan.”. Suaranya yang mirip seperti salah satu vokalis Yovie & Nuno itu sangat kusuka. akupun tersenyum sambil menjawab,“Lu juga suka baca ya? Gue pikir cowok sekarang lebih suka nonton dibanding baca.”

“Lah, kan gue cowok jaman dulu, bukan cowok jaman sekarang.”, ia menjawab sambil sedikit tertawa kecil, yang membuatku ingin ikut tertawa. “Bisa aja lu.” jawabku. Ia pun mengulurkan tangannya hendak mengajak bersalaman. “Oh iya, gue lupa. Nama gue Doni.”, akupun menyambut uluran tangannya sambil menjawab, “Nama gue Dian”.

Dia meminta nomor teleponku, katanya sih supaya kita bisa tukar pikiran, karena kebetulan hobi kita sama. Akupun memberikan nomor handphoneku. Tiba-tiba aku teringat kalau hari ini adalah hari pertamaku ikut kursus. Langsung aku bergegas pamitan padanya sambil menjerit didalam hati. ‘Akhirnya aku bisa kenal dengannya’.

***

Doni. Sudah 3 hari semenjak perkenalan kita. Semenjak itu pula kita selalu berkomunikasi. Entah hanya sms, ataupun telepon. Kamu memberikan perubahan didalam hidupku, biasanya aku jarang tertawa, kali ini aku bisa tertawa lepas tanpa harus malu. Saat inipun aku ingin meneleponnya, ingin tahu dia sedang apa. Semoga aku tidak dicap sebagai cewek agresif.

Assalamu’alaikum Doni, lagi apa?”, Tanyaku padanya. “Wa’alaikum salam. Nggak lagi ngapa-ngapain nih. Ada apaan bu?”, jawabnya. Entah kenapa, Doni selalu memenggilku ibu, padahal aku belum kelihatan terlalu tua. Aku pernah menanyakan soal ini padanya, tapi dia hanya tertawa kecil saat kutanya.

“Anterin gue ke toko buku yuk, bantuin nyari referensi.”, aku langsung menanyakan ke intinya, biar cepat. ‘Semoga dia mau’, pikirku agak khawatir. Kutunggu jawaban darinya, tapi dia tak kunjung menjawab.

“Woi, denger ga?”, tanyaku lagi. “Boleh, gue juga lagi pengen nyari buku nih, kapan lu bisa?”, sahutnya. ‘Alhamdulillah, untung dia mau.’ Aku langsung cepat-capat menjawab, “Hari minggu besok ya, di Gramedia PIM aja, jam 11, sekalian gue mau minta pendapat lu soal teenlit gue nih.” “Boleh aja, tapi yakin tuh bagus?”, ledeknya sambil tertawa. “Yee, ngeledek nih. Tau deh, yang jago nulis.”, kataku sewot. ‘Ngeledek terus nih orang.’ “hehe, bercanda bu, jangan sewot gitu dong.”, katanya meminta maaf. “Yaudah deh, sampe ketemu minggu besok ya, dadaaah.”, kataku sambil menyudahi telepon. “YEEEEEEE”, teriakku tanpa sadar. “Diaaan, jangan teriak-teriak, berisik.”, ibuku memanggilku dari luar. Ups, hampir saja. Akupun langsung mempersiapkan apa saja yang diperlukan untuk besok. Termasuk teenlit yang aku ingin Doni membacanya. “Ada apa sih, tadi kamu sampai teriak-teriak begitu, kayaknya senang banget.”, tiba-tiba ibuku sudah berada di belakangku. Langsung aku tersentak dan bilang, “eh, ibu. Kirain siapa. Nggak bu, besok aku mau pergi ke toko buku. Boleh ya bu.”, pintaku penuh harap. “Mau kesana sama siapa, teman sekolahmu?”, tanya ibuku sambil mengelus rambutku yang kubiarkan digerai. “Ah, ibu ngeledek aku ya? Teman sekolahku kan ga ada yang suka baca, pada lebih suka nonton lah, shopping lah. Kan duma ngabisin waktu aja kalau kayak gitu.”, ujarku sambil cemberut.

Ibupun tertawa kecil, “Terus sama siapa, pacar kamu ya?”, kembali ibu meledekku lagi. “Ibu nih, ngeledek terus. Cuma teman kok bu. Tapi sama-sama suka baca. Makanya aku cepat dekat sama dia. Boleh ya bu.”, pintaku sekali lagi. Ibuku orangnya demokratis, ia selalu mendengarkan pendapatku sebelum ia mengambil keputusan. Tapi kalau soal cowok, aku belum pernah menanyakannya. Makanya kali ini aku agak takut. takut kalu ibu tidak membolehkan aku pergi.

“Boleh kok, yang penting kamu jaga diri ya.” begitu jawaban ibuku. Dan akupun langsung memeluk ibu sambil berterimakasih padanya. Kemudian aku melanjutkan persiapan untuk hari minggu besok, semoga bisa lancar.

***

“Dian, maaf ya, gue nggak bisa temenin lu ke toko buku. Gue lagi sakit, tadi kata dokter, gejala tipes.”, Doni meneleponku dengan suara yang agak pelan. Aku langsung kecewa, sekaligus kasihan kepadanya. “Cepat sembuh ya, jangan sakit terlalu lama. Nanti kalau udah sembuh, anterin gue ya.”, begitu jawabku di telepon. Kembali Doni meminta maaf padaku.

Setelah menelepon, aku kembali membongkar tasku yang sudah dipenuhi oleh teenlit yang akan kupinjamkan ke Doni. Diantara buku itu, aku menyisipkan sepucuk surat berwarna putih bersih, sehingga tidak terlalu ketahuan kalau ada surat didalamnya. Surat yang telah semalaman kutulis hanya untuknya, yang isinya menggambarkan tentang perasaan dan pengharapan aku padanya. Surat itu kembali kusimpan di meja belajarku, semoga aku masih bisa memberikan surat ini padanya.

***

Sudah beberapa hari ini Doni sakit, dan selama itu pula aku tidak meneleponnya. Aku hanya bisa memberikan sms untuk menyemangati dia, supaya bisa semangat dan cepat sembuh. Aku juga sudah mulai disibukkan dengan tugas sekolahku yang mulai menumpuk. Sepulang sekolah nanti aku juga masih ada kursus, tetapi aku ingin mampir ke kios koran yang sekarang sudah menjadi langgananku. seperti biasa, aku ingin membeli majalah.

Akupun menyempatkan diri untuk mengobrol dengan penjual koran, menceritakan tentang Doni dan keadaannya. Kemudian akupun pergi menyeberang jalan karena lampu sudah merah. Tetapi saat ku menyeberang, banyak orang yang berteriak, dan…
“AAAAAAA !”
BRAKKK

***

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Mohon maaf, apabila aku hanya bisa menuliskan perasaanku di secarik kertas ini, bukan menyampaikannya secara langsung. Selama ini aku memperhatikanmu yang sedang duduk menunggu bis di dekat kios koran itu. Aku ingin menyapamu, tetapi aku terlalu malu untuk memulainya, sehingga aku hanya bisa tersenyum padamu.

Aku ingin kamu selalu ada mengisi hari-hariku dan selalu memberikan semangat padaku disaat aku sedang jatuh ataupun tidak semangat. Mohon maaf apabila kalimat ini terlalu lancang ataupun kamu merasa aku tidak pantas untukmu. sekali lagi aku minta maaf…

Yang mencintaimu,

Dian Anggraini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s