“Bang, beli majalahnya satu, yang itu bang.” Suara itu membuyarkan lamunanku saat itu. Kulihat ada sesosok gadis berbaju SMA disana. Rambutnya hitam bergelombang, matanya indah, dan senyumnya pun manis. ‘Damn, cantik banget nih cewek’, pikirku saat itu. Mas Iman, penjual koran disitu pun langsung mengambilkan majalah yang dimaksud. Iya, bukan aku penjual korannya, aku cuma suka nongkrong di kios koran ini, sambil menunggu bis yang akan membawaku pulang kerumah. Dan mas Iman adalah penjual koran langgananku dari aku mulai masuk SMA sampai sekarang aku naik ke kelas 3 SMA.

Gadis itupun membayar majalah yang dibelinya, kemudian ia menyibakkan rambut, dan saat itulah kedua mata kami bertemu. Iapun lalu tersenyum padaku, senyum yang menyejukkan setiap orang yang melihatnya. Senyum itu terlihat manis sekali, seketika aku lupa kalau bis yang akan kutumpangi itu baru saja lewat. Akupun membalas senyumannya . Sesaat kemudian, iapun pergi, menyeberang jalan yang selalu ramai itu.

“Itu siapa mas, kok saya baru lihat.”, tanyaku kepada mas Iman yang sedang merapikan dagangannya. “Oh, cewek itu. Udah 2 minggu ini dia kesini, buat beli majalah. Lu suka ya sama dia?” Tanya mas Iman sambil tersenyum. Wajahku pun langsung memerah, ‘sepertinya begitu’, kataku dalam hati.

“Dia emang cantik sih, lagian kelihatannya dia juga suka sama lu. Soalnya baru kali ini gue liat dia senyum sama orang lain, biasanya dia pasang tampang cemberut atau angker kalau ada yang lagi ngeliatin dia.”, cerita mas Iman.

“Mas Iman tahu dari mana kalau saya ngeliatin dia?”, tanyaku bingung, kok dia bisa tahu, padahal dari tadi dia sibuk melayani pembeli yang lain. “Ya tahu lah, kalo lu nggak ngeliatin, ngapain juga lu nanya.” kata mas Iman sambil tertawa. ‘Oh iya, kok gue jadi bego begini ya?’tanyaku dalam hati.

“Yaudah deh mas, saya pulang dulu ya. Nanti kalalu ketemu dia lagi, bilang, salam dari saya gitu.” Seru saya sambil pergi menuju bis. “Iya, gampang.”

***

“Tumben lu buru-buru, ada apaan sih, nggak ikutan KIR lu?”, temanku Firo mencegatku, saat aku mau keluar kelas. “Gue lagi ada urusan sebentar. Balik duluan ya.”, sahutku sambil pergi meninggalkan kelas yang sebenarnya masih ramai karena nanti akan ada pertemuan anggota KIR yang mayoritas dari kelasku. Aku juga anggota KIR, tetapi kali ini aku ingin cepat-cepat pulang. Aku ingin bertemu dengan gadis SMA itu. dari rumah, aku sudah menguatkan tekadku untuk berkenalan dengannya hari ini. Meskipun aku sadar, aku nggak terlalu ganteng, tapi apa salahnya mencoba, mungkin aja jodoh, pikirku saat itu.

Sesampainya aku di kios koran, mas Iman langsung menegurku, “tumben lu udah pulang, biasanya agak sore. Pasti mau ketemu cewek yang waktu itu ya ?”, akupun nyengir, “hehe, mas tau aja. Kira-kira hari ini dia kesini nggak ya?”

“Harusnya sih kesini, soalnya hari ini majalah yang biasa dia beli udah keluar. Tunggu aja dulu sebentar”, sahut mas Iman sambil mengambilkan majalah yang biasa kubeli. Akupun langsung deg-degan, karena baru kali ini aku berkenalan dengan orang lain yang belum pernah kukenal sebelumnya. Aku selama ini selalu disibukkan oleh sekolahku, sehingga tidak sempat mengurusi yang lain. Tugas sekolahku banyak, belum lagi tugas KIR dan Rohis, jadi hanya disinilah aku bisa sedikit bersantai, sambil menunggu bis.

“Bang, biasa ya, yang itu.”, suara itu kembali membuyarkan lamunanku tentang tugas-tugas yang menumpuk. Mas Iman menyenggol bahuku sambil menghampiri gadis itu. Dan sesaat setelah dia membayar majalahnya, dia kembali tersenyum padaku. Akupun langsung menghampirinya.

“Selera lu bagus, itu majalahnya keren tuh, sayang isinya lebih buat cewek. Kalo buat cowok, pasti gue juga udah langganan.”, tegurku. Dan diapun kembali tersenyum. “Lu juga suka baca ya? Gue pikir cowok sekarang lebih suka nonton dibanding baca.”, sahutnya sambil tersenyum. Man, dia senyum lagi, manis banget, kataku dalam hati. “Lah, kan gue cowok jaman dulu, bukan cowok jaman sekarang.”, aku menjawab sambil tertawa. Diapun ikut tertawa kecil, memperlihatkan barisan giginya yang putih dan berjajar rapi. “Bisa aja lu.”

“Oh iya, gue lupa. Nama gue Doni.”, kataku sambil mengulurkan tangan. Diapun bersalaman denganku sambil berkata, “Nama gue Dian”.

“Gue boleh minta nomor handphone lu nggak, kali aja kita bisa tukar pikiran. Kan kita sama-sama suka baca.”, pintaku takut. Kulihat dia kembali tersenyum, “Boleh, ini nomor handphone gue.”, sambil memberikan secarik kertas bertuliskan nomor handphonenya. “Gue jalan duluan ya, ada kursus nih. Nanti sms gue ya, bye.“, sahutnya sambil berlari menyeberang jalan. “Bye, hati-hati ya.”, sahutku.

“Sukses nih.”, mas Iman berkata sambil menepuk pundakku. “Eh, kirain siapa mas, ngagetin aja.”, sahutku kaget bercampur senang, karena aku berhasil berkenalan dengan Dian.

“Yaudah mas, saya pulang dulu ya.”, kataku sambil memasukkan majalah yang kubeli tadi.  “yo, hati-hati. Kalo nanti jadian, bilang-bilang ya.”, mas Iman meledekku. Aku cuma bisa tersenyum, apa bisa?

***

“Anterin gue ke toko buku yuk, bantuin nyari referensi.”, begitu kata Dian barusan. Sudah 3 hari  gue kenal sama Dian, selama itu juga gue sms ataupun telepon dia, dan dia selalu senang setiap ada sms dariku, “Akhirnya ada juga yang 1 hobi dengan gue.”, begitu kata dia sewaktu aku sms pertama kali.  Dian ternyata suka membaca, diapun juga suka menulis teenlit, maskipun karyanya belum pernah dipublikasikan. Malu katanya, takut jelek, soalnya belum ada yang saranin ke dia, karena dia tidak punya teman yang 1 hobi dengannya.

“Woi, denger ga?”, katanya lagi. Akupun tersentak, lupa kalau aku lagi telepon dia. “Boleh, gue juga lagi pengen nyari buku nih, kapan lu bisa?”, sahutku. “Hari minggu besok ya, di Gramedia PIM aja, jam 11, sekalian gue mau minta pendapat lu soal teenlit gue nih.”

“Boleh aja, tapi yakin tuh bagus?”, ledekku sambil tertawa. “Yee, ngeledek nih. Tau deh, yang jago nulis.”, katanya sewot. “hehe, bercanda bu, jangan sewot gitu dong.”, kataku meminta maaf. “Yaudah deh, sampe ketemu minggu besok ya, dadaaah.”, katanya sambil menutup telepon.

Yesss, akhirnya gue bisa jalan sama dia.Kalau begitu harus siap-siap nih buat hari minggu.
sayup-sayup kudengar lagu Yovie & Nuno yang tadi kusetel sebelum menelepon Dian.

Tak ku rasa sebelumnya..
Sejuta cinta yang terindah..

***

Minggu pagi, aku terbangun dengan kepala pusing. Akupun langsung berusaha untuk bangun dari tempat tidur, tapi kepalaku semakin pusing. ‘Mungkin cuma tekanan darah aja yang turun’, pikirku. Aku paksa untuk berjalan keluar dan menemui ibuku yang sedang memasak didapur. Begitu melihatku, ibu langsung menghampiriku dan menyentuh keningku, “Astaghfirullah, panas banget badan kamu, ayo siap-siap, ibu antar ke dokter.”, katanya panik sambil mematikan kompor, lalu bergegas meninggalkanku. ‘Wah, gawat nih’

“Kamu kena gejala tipes nih, jangan kemana-mana ya, nanti saya buatkan surat keterangan sakit.”, vonis dokter setelah memeriksaku tadi. Ibuku langsung pucat. Aku juga. ‘Ga jadi nih jalan sama Dian.’, pikirku panik.

Sesampainya dirumah, aku langsung telepon Dian, dan Dian pun terdengar sangat kecewa mendengar kabar dariku, meskipun akhirnya dia bisa menerima alasanku. “cepat sembuh ya, jangan sakit terlalu lama, nanti kalau udah sembuh, anterin gue ya.”, itu kata-katanya di telepon saat bicara denganku. Aku mengiyakan sambil meminta maaf.

Selama aku sakit, Dian selalu menanyakan kabarku melalui sms. Katanya, kalau telepon takut ganggu istirahatku. Tetapi hari kamis, dia tidak sms lagi. Aku pikir, mungkin dia sibuk dengan tugasnya dan dia ingin aku istirahat supaya cepat sembuh.

***

“Udah sembuh lu, bisa sakit juga lu.”, Firo menegurku di kelas saat istirahat kedua. “yah, begitulah. namanya musibah kan nggak ada yang duga.”, kataku sambil pikiranku menerawang memikirkan Dian. Kenapa dengan dia, apa dia sudah punya pacar, atau dia sudah tidak mau lagi berteman denganku? Semakin dipikirkan, perasaanku semakin tidak enak. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa.

Pulang sekolah, aku langsung menuju kios koran langgananku, mau bertanya kepada mas Iman, apa kemarin-kemarin dia sempat beli majalah.

Jalan Gajah Mada seperti biasa, selalu macet dihari kerja. Bahkan kadang di hari minggu pun macet juga. Beginilah ibukota jaman sekarang.

Kuhampiri mas Iman, yang ternyata dia juga melihatku dan bergegas menghampiriku. Belum sempat aku bertanya, dia langsung berkata padaku, “cewek itu waktu hari kamis kemarin, habis beli majalah yang biasa, dia cerita ke gue kalau lu lagi sakit, makanya nggak pernah kesini. Dia juga bilang kalau nanti lu udah sembuh, lu diminta ke rumahnya. Habis dia bilang gitu, dia pamit, dan saat dia nyebrang jalan, dia kecelakaan. Ada motor yang ngelanggar lampu merah dan menabrak cewek itu. Kepalanya berdarah, dan langsung kita bawa kerumah sakit.”, kepalaku langsung pusing mendengar perkataan itu. ‘nggak mungkin’, jeritku dalam hati.

Aku langsung bergegas ke rumah sakit. sesampainya disana, aku langsung menanyakan kepada perawat di resepsionis apakah ada pasien yang bernama Dian yang hari Kamis kecelakaan. Dan tanpa diduga, perawat itupun bilang, “Maaf mas, pasien yang bernama Dian sudah meninggal kemarin pagi, pendarahan kepala yang dialaminya terlalu parah sehingga ia kehabisan darah.”, Jantungku pun serasa berhenti berdetak dan kepalaku seperti mau pecah. “Aku terlambat.”, gumamku.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada perawat itu, aku langsung pergi ke rumah Dian, ingin tahu keadaan di rumahnya. Sampailah aku di rumah yang terlihat sederhana itu, yang berpagar hijau, bercat putih bersih, dan dihiasi tanaman-tanaman yang sedap dipandang mata. Kuketuk pintu rumahnya dan seorang wanita setengah baya yang membukakan pintu. ‘Ini pasti ibunya’, pikirku.

Assalamu’alaikum, bu. Saya Doni, temannya Dian. Turut berduka cita ya bu.”, sambil mencium tangan ibunya Dian. “Wa’alaikum salam. Makasih ya dik, ayo silakan masuk.”, ujarnya. Akupun masuk kedalam rumahnya, yang ternyata didalam ruang tamunya terpajang cukup banyak foto, terutama foto dari Dian. Akupun langsung ingin menangis.

“Kemarin-kemarin, Dian banyak cerita tentang kamu. Katanya, kamu itu satu-satunya teman yang memiliki hobi yang sama dengannya. Dia juga bilang kalau ingin sekali kamu membaca buku yang dia tulis selama ini. Dan saat bicara tentang kamu, matanya selalu berbinar-binar. Baru kali ini ibu melihat dia seperti itu. Sebentar, ibu ambilkan dulu bukunya.”, sambil beranjak menuju kamar, yang sebelumnya, adalah kamar Dian. Hatiku semakin sakit, karena aku mengingat Dian, yang akhir-akhir ini selalu mengisi hari-hariku.

“Ini kumpulan buku yang dia tulis. Dan ada surat untuk kamu. Bacalah.”, ibunya Dian berkata sambil memberikan setumpuk buku padaku. Ada lima buah buku yang dia tulis sendiri, tetapi surat itu menarik perhatianku. Surat beramplop putih dan didepannya tertulis namaku. ‘Untuk apa surat ini?’, tanyaku bingung sambil membuka surat tersebut.

Didalamnya terdapat kertas berwarna biru muda, yang isinya ia tulis dengan tulisan yang indah dan rapi, persis seperti orangnya. Didalamnya bertuliskan sajak dari Sapardi Djoko Damono, ditambah dengan kata-kata singkat darinya

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Mohon maaf, apabila aku hanya bisa menuliskan perasaanku di secarik kertas ini, bukan menyampaikannya secara langsung. Selama ini aku memperhatikanmu yang sedang duduk menunggu bis di dekat kios koran itu. Aku ingin menyapamu, tetapi aku terlalu malu untuk memulainya, sehingga aku hanya bisa tersenyum padamu.

Aku ingin kamu selalu ada mengisi hari-hariku dan selalu memberikan semangat padaku disaat aku sedang jatuh ataupun tidak semangat. Mohon maaf apabila kalimat ini terlalu lancang ataupun kamu merasa aku tidak pantas untukmu. sekali lagi aku minta maaf…

Yang mencintaimu,

Dian Anggraini

Dadaku sesak, hatiku hancur, kepalaku semakin pusing, karena sebenarnya aku juga mulai mencintainya. Ya, aku mencintai Dian, sampai-sampai aku tidak menyadari kalau ini yang namanya cinta.

“Maaf bu, saya boleh pinjam buku ini? Saya ingin membacanya di rumah.”, tanyaku sopan. “Silakan, boleh kok. Kamu bawa saja buku itu”, sahutnya ramah. “Terima kasih bu, kalau begitu saya mohon pamit dulu. Assalamu’alaikum“, pamitku sambil mencium tangannya. “Wa’alaikum salam. Hati-hati ya dik.”, Jawabnya.

Aku langsung pulang sambil membawa sekumpulan teenlit dan sepucuk surat yang dibuat oleh Dian.  Hanya inilah yang kumiliki saat ini sebagai kenang-kenangan dari Dian. Senyumnya, tawanya, suaranya, sosoknya, tak akan pernah bisa kulupakan walaupun dia sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Aku mencintaimu, Dian…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s