Ima tersadar, meskipun kepalanya agak pening. Dalam kegelapan samar-samar ia melihat sesosok manusia didekatnya, ia berpikir, mungkin orang itulah yang memukul kepalanya hingga ia tak sadarkan diri. Dipeganglah kepalanya, ada sesuatu yang agak kental saat ia meraba bagian belakang kepalanya, dan ia pun tersadar bahwa itu adalah darah segar yang keluar dari punggung kepalanya. Ima pun kembali pusing.

“Udah sadar lu rupanya.” suara orang itupun mengagetkan Ima. Sesaat, ia seperti mengenali suara itu, tetapi semakin ia mengingat, kepalanya semakin pusing.

“Tempat apa ini?”, bisik Ima lirih, namun pria itu mendengar bisikan tersebut, lalu ia menyalakan lilin.

Ima pun tercekat sat melihat wajah orang yang menyekapnya itu, “Ardi, tidak mungkin.”

“Apanya yang tidak mungkin, ini emang gue” dalam keremangan cahaya lilin, Ardipun menyeringai.

“Apa-apaan sih kamu, ngapain kamu sekap aku? Ini dimana?”, Ima yang kesadarannya sudah benar-benar pulih langsung mengeluarkan pertanyaan bertubi-tubi. Mendengar itupun Ardi tertawa pelan.

“Ngomong aja sekeras-kerasnya, kalo mau teriak, teriak aja. Toh disini nggak ada yang bakal dengerin suara lu.” Ardi pun membentak Ima, yang kaget seketika.

Tempat itu adalah sebuah pabrik, dilihat dari banyaknya peralatan yang berserakan disana. ‘Mungkin sudah lama tidak terpakai, aku teriak juga percuma’, bisik Ima dalam hati. ”Terus kenapa kamu ikat aku disini, tolong lepasin, kamu kan pacar aku”, Ima memohon sambil menahan tangisnya. Bukan tangis karena menahan sakit di kepalanya, melainkan karena ia merasa dikhianati oleh pacarnya sendiri.

” Pacar apanya? emang mungkin status kita pacaran, tapi selama kita pacaran, gue nggak pernah ngerasa tenang karena lu selalu curiga sama gue “, Ardi menjawab dengan nada suara yang selama ini tidak pernah Ima dengar sebelumnya. Ima mengenal Ardi sebagai pribadi yang baik, sopan, tidak pernah membantah ataupun mengeluh selama ini, tapi ini lain. Ardi yang nampak di hadapannya bagaikan seorang pembunuh berdarah dingin yang siap menghancurkan semua yang ada didepannya.

“Semenjak lu bilang kalo lu ga percaya sama gue, gue udah ngerasa ga yakin kalo kita bakal bisa ngelanjutin hubungan kita dengan lancar. Lu selalu intimidasi gue dengan pertanyaan-pertanyaan soal Diana, padahal gue udah berulangkali jelasin kalau Diana itu temen baik gue, dan selama itu lu ga pernah percaya.” Diana itu teman Ardi sewaktu SMA, dan hubungan mereka sangat dekat. Malah ada yang bilang kalau mereka sangat cocok bersama. Tapi itu masa lalu.

“Tapi kan kemarin aku udah minta maaf dan janji bakalan percaya sama kamu. Bisa ngerti kan?” Air mata pun mulai meleleh di pipi Ima yang sedikit merah karena darah juga mengalir ke wajahnya yang manis itu.

“Iya, tapi untuk apa lu nanyain tadi pagi, siapa Lia sebenarnya. Kalau lu percaya sama gue, ga usah nanya begitu!”, bentak Ardi. Samar-samar Ima melihat mata Adi yang melotot dan mukanya yagn terlihat marah. Ima bergidik, ‘ kenapa ini harus terjadi? ‘ sambil menahan tangisnya.

“Salah ya kalo aku nanya begitu? Aku kan juga sayang sama kamu, makanya nanya begitu.”

“Iya, SALAH. Itu tandanya lu masih ga percaya sama gue.” Suara Ardi pun semakin keras. Di kejauhan, terdengar suara petir yang menggelegar, disusul suara hujan yang terdengar cukup deras. “Oke, aku minta maaf, lagian aku dapet kabar ini dari temen kamu tuh, dia yang bilang. Sekarang tolong, lepasin aku. Aku bakal kasih kamu semuanya.” Ima memohon sambil menangis.

“Udah terlambat, gue udah terlanjur ga bisa percaya lagi sama lu.” Ardi berkata sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. ‘Tang? untuk apa dia mengambil tang?’ Ima pun terlihat semakin panik. Ardi juga mengeluarkan pisau lipat dari dalam kantong celana jeansnya.

“AAAAAAAAAA !!!”, jerit Ima terdengar sampai keseluruh penjuru ruangan. Jempol kakinya terasa perih sekali. Terlihat, Ardi sedang mengiris pinggir kukunya. Tang itupun digunakan untuk mencabut kukunya yang sudah terlihat sedikit menganga akibat diiris pisau tadi. “AAAAAAAAAAAAA”, Sekali lagi Ima menjerit, lalu menangis histeris.

“Ini masih belum cukup.” bisik Ardi sambil memotong jeruk nipis, yang lalu diperaskan ke jempol Kaki Ima yang kukunya sudah dicabut tadi. “Udah, cukup Ardi. Hentikan.”, Ima memohon ampun sambil menangis perih karena perasan jeruk nipis itu mengenai tepat di bekas kukunya itu.

Ardi mengulangi tindakannya itu sampai seluruh kuku kaki Ima tercabut, dan setiap itu pula Ami kembali menjerit, menangis, dan memohon, tetapi Ardi tetap tidak menggubrisnya sampai akhirnya Ima lemas karena sudah tidak ada tenaga lagi.

Ardi mengambil borgol dari dalam tasnya, tas yang diberikan Ima dulu kepadanya. Ia pun memakaikan dorgol itu di kaki Ima, dan yang satunya lagi dipakaikan ke rak besi yang terletak didekat tempat Ima diikat. ‘apa lagi maunya?’, Ima kembali bertanya-tanya dalam hati.

Seolah mendengar pertanyaan Ima, Ardi menjawab, “Gue mau pergi, pisau ini gue tinggalin disini, pake ini buat potong kaki lu. Itu juga kalo lu masih pengen hidup dan keluar dari sini.” Sambil melepaskan ikatan di tangan Ima, Ardi berkata lagi, “Kalau lu lapor polisi saat lu keluar dari sini, lu bakal gue bikin lebih menderita lagi daripada sekarang. “

“Kalau lu niat buat nyari gue, temuin gue di tempat pertama kali kita jalan, 1 tahun dari sekarang. Itupun kalau lu masih bisa hidup dan keluar dari sini. Selamat tinggal. “, Ardi pun pergi meninggalkan Ima yang masih menangis, memikirkan nasibnya nanti, apakah ia masih bisa keluar dari sini atau tidak.

Hujan pun semakin deras terdengar, dan petir pun berulangkali menggelegar.

…SELESAI…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s